Minggu, 30 Agustus 2015
@ribunta
Tek kam man Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi mbiar kam nuriken sura-surandu. Uga ningen banci datndu? Pindoi saja, adi la bere-Na, e urusen-Na
Rabu, 19 Agustus 2015
so far so good
Lebih baik berdoa meminta kekuatan daripada meminta kemudahan. Orang kuat akan mampu memudahkan hidupnya.
Sabtu, 11 Juli 2015
Senin, 22 Juni 2015
NOSTALGIA JINGGA DIRUAS REMAJA
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Ini tentang kita
nostalgia jingga diruas remaja
adalah satu satunya gerbang asmara
nafas syurga ada disana
bertemunya tulang rusuk dengan pangkal
ketika kita adalah cahaya
Bara didadamu menyala tak terkendali
kabar burung dan tipuan mata kau salah eja
prasangka satusatunya alasan jatuhkan hukuman
hilangmu membawa anak kunci gerbang asmara jiwa
nuraniku terkunci mati hampakan segalagalanya
Hitam atau putihkah yang mengantar langkahmu
ataukah kau tersesat dijalur yang dulu kita bangun bersama
jangan tawarkan mimpi jika akhirnya menyakiti
jangan hidangkan penawar dahaga jika berbuah nestapa
tapi kini kuucap terima kasih tak bertepi
setidaknya telah kau pahami sedalam apa cinta ini.....
nostalgia jingga diruas remaja
adalah satu satunya gerbang asmara
nafas syurga ada disana
bertemunya tulang rusuk dengan pangkal
ketika kita adalah cahaya
Bara didadamu menyala tak terkendali
kabar burung dan tipuan mata kau salah eja
prasangka satusatunya alasan jatuhkan hukuman
hilangmu membawa anak kunci gerbang asmara jiwa
nuraniku terkunci mati hampakan segalagalanya
Hitam atau putihkah yang mengantar langkahmu
ataukah kau tersesat dijalur yang dulu kita bangun bersama
jangan tawarkan mimpi jika akhirnya menyakiti
jangan hidangkan penawar dahaga jika berbuah nestapa
tapi kini kuucap terima kasih tak bertepi
setidaknya telah kau pahami sedalam apa cinta ini.....
LUKA ASA DIBASUH AIR MATA
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham.
Luangkan waktumu kita berselancar kesilam kenang
menatap jernih tumpukan fakta
sesekali menyiangi sunyi tertinggal
menatap jernih tumpukan fakta
sesekali menyiangi sunyi tertinggal
Kita pernah berdiri sebayangan
menyeberangi lintasan waktu
dan terus memahat rasa
menyeberangi lintasan waktu
dan terus memahat rasa
Jalan hidup merentangkan jarak
diam diam sendirian berkali kali kujenguk nostalgia itu
tonggak sunyi menyergap tiap langkahku
pahit getir perih pedih luka asa dibasuh air mata
diam diam sendirian berkali kali kujenguk nostalgia itu
tonggak sunyi menyergap tiap langkahku
pahit getir perih pedih luka asa dibasuh air mata
LAPISAN KEHIDUPAn
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Ada siang ada malam
gelombang pasang gelombang surut
hidup beranjak dari satu lembaran ke lembaran berikut
gelombang pasang gelombang surut
hidup beranjak dari satu lembaran ke lembaran berikut
Tetapkan tekad tetap tegak
kemaslah dinginnya hujan panasnya mentari
melaju bersama semilirnya bayu
kemaslah dinginnya hujan panasnya mentari
melaju bersama semilirnya bayu
Padi ditampi bernas disimpan
pahit dikenang manis dirasa
tertata indah dipustaka jiwa
senyum menantimu ujung kesuksesan
pahit dikenang manis dirasa
tertata indah dipustaka jiwa
senyum menantimu ujung kesuksesan
Selasa, 16 Juni 2015
Apakah KBB Bermanfaat Membangun Bhineka Tunggal Ika?
Oleh: MU Ginting
“Apa manfaatnya kampanye Karo Bukan Batak (KBB)? Apakah akan mendatangkan kemakmuran pada orang Karo? Apakah akan bermanfaat membangun Bhineka Tunggal Ika?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah hakiki bagi gerakan pencerahan KBB.
Bagian besar orang Karo saya yakin sudah bisa menjawab dengan beragam jawaban pula, seperti sudah kita jumpai sering belakangan ini, jawaban mendalam atau dangkal, sopan atau kurang sopan dsb.
Tapi semuanya menarik dalam proses perubahan dan perkembangan pemikiran KBB, karena istilah B ini sudah lebih dari 200 th ‘dibukukan’ dalam benak manusia negeri kita oleh antropologi kolonial, mision kolonial, dan orang-orang kolonial sendiri untuk kepentingan politik kekuasaan dan penjajahan mereka. Setelah kolonial pergi, istilah ‘B’ digunakan oleh etnis tertentu dalam konteks internal colonialism, seperti istilah ‘A’ atau Aceh di provinsi Aceh.
Pertanyaan terakhir ‘Apakah akan bermanfaat membangun Bhineka Tunggal Ika’? adalah pertanyaan yang sangat penting, karena menyangkut nasib seluruh nation Indonesia dalam hubungannya dengan keragaman, pengakuan terhadap keragaman, dimana Karo adalah salah satu unsurnya.
Tiap unsur sangat perlu punya kejelasan, keaslian, kultur dan budayanya, IDENTITASnya dan daerahnya. Pengakuan dan penghargaan atas unsur-unsur kebhinekaan ini perlu untuk menghindari konflik dan perang antara berbagai unsur bhineka tunggal ika. Karo dan Batak adalah dua unsur berbeda, kultur, budaya, bahasa, way of thinking, filsafat hidupnya, primordialnya, daerahnya dsb semua keaslian dalam tiap unsur kebhinekaan itu.
Mengaburkan atau tak mengindahkan perbedaan (abad 20) sangat berbahaya, perang etnis dunia yang sudah makan jutaan korban jiwa jadi bukti hidup. Abad 21 adalah abad pencerahan perbedaan, setelah itu pengakuan dan penghargaan atas perbedaan itu, demi kedamaian, perubahan, perkembangan dan kemajuan.
Tidak mungkin ada Bhineka Tunggal Ika kalau tak ada orang yang mengetahui PERBEDAAN dari unsur-unsur perbedaan yang ada dalam Bhineka Tunggal Ika. Era lalu hanya retorika dan jargon politik Bhineka Tunggal Ika, tetapi kalau ada pertanyaan apa bedanya Karo dan Batak, tak ada yang tahu, walaupun banyak yang ngepul soal persamaannya, ‘sama-sama Batak’ untuk mengaburkan dua unsur berbeda sehingga sempat pada zamannya Karo tak dikenal sama sekali. Dan ini jelas bukan tujuan Bhinneka Tunggal Ika.
Aksara Batak Ternyata Berasal dari Luar Batak
Di seluruh dunia hanya terdapat dua tempat yang menemukan aksara, yaitu Mesir dan Cina. Semua aksara yang dikenal saat ini di dunia merupakan turunan Mesir atau Cina. Aksara India termasuk kelompok Mesir, sementara aksara Batak termasuk kelompok India.
Seperti yang ditulis oleh Dr. Uli Kozok dilamaan fans page facebooknya, menuliskan bahwa semua aksara Nusantara (kecuali Jawi dan Latin) merupakan aksara yang berasal dari India. Namun menurutnya, setelah tiba di Nusantara, terdapat perkembangan yang menarik: Kesejajaran huruf /da/ dan /ja/ hanya ada di Nusantara, tidak di India.
Pada pembagian besar aksara Nusantara bentuk huruf /da/ dan /ja/ pada hakikatnya sama. Adapun yang membedakan kedua huruf hanya sebuah garis horisonal yang ditambah pada aksara /ja/.
Apa implikasi untuk sejarah aksara Batak? Bahwa menurut Uli Kozok terdapat 3 kesimpulan utama, yaitu:
1. Semua aksara Nusantara (Indonesia dan Filipina) memiliki asal usul yang sama,
2. Aksara Batak bukan diciptakan di Tanah Batak melainkan berasal dari luar,
3. Berdasarkan pengetahuan kita mengenai sejarah Sumatra, sepertinya tempat asal aksara Batak terdapat di kawasan Sumsel, Bengkulu, Jambi, dan barangkali juga Minangkabau.
2. Aksara Batak bukan diciptakan di Tanah Batak melainkan berasal dari luar,
3. Berdasarkan pengetahuan kita mengenai sejarah Sumatra, sepertinya tempat asal aksara Batak terdapat di kawasan Sumsel, Bengkulu, Jambi, dan barangkali juga Minangkabau.
Dari tulisan Uli Kozok terkait asal-usul aksara tersebut, pengamat sejarah Karo, Edi Sembiring yang selama kurun beberapa tahun terakhir telah mendirikan blog Karo Siadimenambahkan, bahwa Van der Tuuk lah yang menuliskan buku tentang Aksara Batak tapi hanya pada : Mandailing, Toba dan Dairi. Mengapa tak Karo dan Simalungun termasuk? Kalau hanya karena jarak bisa dimaklumi hingga tak mampu ditempuhnya.
Edi Sembiring menambahkan bahwa hal yang tak dapat diterima bila dinamakan aksara Batak apabila para peneliti kala itu harus memaksakan menamakannya. Menurutnya pilihan nama Batak adalah kesesatan.
“Uli Kozok pun mengakui yang tertua pengguna aksara ini adalah Mandailing. Bisa saja pengetahuan ini berasal dari Minangkabau. Bisa pula diberi nama aksara Mandailing” tulis Edi Sembiring
Edi juga mengatakan bahwa aksara dapat dipelajari oleh suku apapun yang berbeda bahasa seperti aksara latin yang digunakan saat ini oleh banyak negara, oleh banyak bahasa. Bukan karena 5 suku beraksara sama maka dikatakan serumpun.
“Kepentingan pengetahuan menggunakan aksara kala itu pun terbatas. Jadi aksara bukan sepenuhnya menentukan identitas. Toh aksara pun itu ternyata produk import” tandasnya.
ASESORIS DUNIA GULA GULA ANGKARA MURKA
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Inikah yang kau cari
kepala jadi kaki, kaki jadi kepala
asesoris dunia tetap tinggal didunia fana
kepala jadi kaki, kaki jadi kepala
asesoris dunia tetap tinggal didunia fana
Inikah yang kau kejar
lupa waktu lupa harkat lupa martabat tinggalkan tobat
gula gula angkara murka kau rela diperbudaknya
lupa waktu lupa harkat lupa martabat tinggalkan tobat
gula gula angkara murka kau rela diperbudaknya
Inikah yang kau puja
maha dewa ciptaan manusia rekayasa iblis semata
ketakutan tanpanya melebihi ketakutan tanpa Sang Pencipta
maha dewa ciptaan manusia rekayasa iblis semata
ketakutan tanpanya melebihi ketakutan tanpa Sang Pencipta
Inilah yang mesti kita yakini
kunci berdimensi ganda pembuka pintu sorga dan neraka
berkat tercurah diterima hak insan lain dititipkan disana
kikir akan fakir berbagi itu indah semaikan kebajikan selamanya
kunci berdimensi ganda pembuka pintu sorga dan neraka
berkat tercurah diterima hak insan lain dititipkan disana
kikir akan fakir berbagi itu indah semaikan kebajikan selamanya
BERITA ZAMAN
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Berlindung ditempat terang
hitam putih tersamar
sepak terjang leluasa
hitam putih tersamar
sepak terjang leluasa
Badak tak bermuka
pamer naif memajang kuasa
tersangka penjara narapidana sudah label sosial biasa
pamer naif memajang kuasa
tersangka penjara narapidana sudah label sosial biasa
Alinea akhir jangka Jayabaya digenapi
pejabat kehilangan kuasa rakyat kehilangan logika
benar disalahkan salah dibenarkan
pejabat kehilangan kuasa rakyat kehilangan logika
benar disalahkan salah dibenarkan
Kini waspadalah dengar dengaran gunung Gede memanggil
tujuh gunung ikut mengundang
ada gegap gempita di lebak Cawene
orang Sunda dicari cari orang Sunda memaafkan
tujuh gunung ikut mengundang
ada gegap gempita di lebak Cawene
orang Sunda dicari cari orang Sunda memaafkan
TERLANJUR KUPETIK JINGGA
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham.
Terlanjur kupetik jingga
menyimpanya diam diam diberanda
supaya tetap kuingat meski tak pernah kau ijinkan
menyimpanya diam diam diberanda
supaya tetap kuingat meski tak pernah kau ijinkan
Entah kenapa dan untuk apa
tetap kugenggam kata sebelum penghujung hari
padahal mungkin cuma pelengkap cerita
tetap kugenggam kata sebelum penghujung hari
padahal mungkin cuma pelengkap cerita
Sejujurnya hati terjebak dipersimpangan dilema
apa jadinya jika jingga berubah warna
apalagi jika kata cuma lipstik semata hati kecewa
kumohon hadirlah bawakan tanya yang dulu tersisa
apa jadinya jika jingga berubah warna
apalagi jika kata cuma lipstik semata hati kecewa
kumohon hadirlah bawakan tanya yang dulu tersisa
PENGINGKARAN SUARA HATI
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham.
Sebenarnya seringkali kupungkiri suara hati
bahkan menempatkannya disudut ketidakbenaran
kemudian melaju meski diliputi ragu
bahkan menempatkannya disudut ketidakbenaran
kemudian melaju meski diliputi ragu
Lama lama bertumpuk jelaga
membiru goresan luka disepanjang kebersamaan
lahirkan jengah, pengingkaran pun berkecambah didada
membiru goresan luka disepanjang kebersamaan
lahirkan jengah, pengingkaran pun berkecambah didada
Ketika menata hati menjawab sisa tanya disukma
mengemuka kejujuran tak sanggub terus dilanda dusta
upaya meluruskan kata selalu berujung sengketa
ketimbang menyalakan bara kupilih undur dari panggung sandiwara
mengemuka kejujuran tak sanggub terus dilanda dusta
upaya meluruskan kata selalu berujung sengketa
ketimbang menyalakan bara kupilih undur dari panggung sandiwara
TERJEBAK RESAH
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Aku telah terjebak
Setumpuk resah tak bertuan
sisa dari Jujur nya rasa
Buah kebersamaan ganjil
Setumpuk resah tak bertuan
sisa dari Jujur nya rasa
Buah kebersamaan ganjil
Inilah akhirnya kenyataan
Tergantung asa diujung dilema
Aku telah kehilangan arah
Tergantung asa diujung dilema
Aku telah kehilangan arah
Takkan kuratapi jejak luka ini
Dilema yang kau hidangkan klise
Tawar rasanya apapun tersajikan
Dustamu meluluhlantakkan segalanya
Dilema yang kau hidangkan klise
Tawar rasanya apapun tersajikan
Dustamu meluluhlantakkan segalanya
Separuh Hidupku Bercela
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Aku telah hanyut
lorong lorong kehampaan tercipta
rata disekujur usia
lorong lorong kehampaan tercipta
rata disekujur usia
Nyata ini menyisakan penyesalan
seterlambat ini kesadaran berkunjung
senja menagih lunas silam tersia
seterlambat ini kesadaran berkunjung
senja menagih lunas silam tersia
Kepadamu asa tersakiti kumohonkan maaf
sungguh alfa sengaja pun khilaf nan meluka
bagaimana mesti kubayar asa terbiarkan
separuh hidupku telah bercela, ampunilah
sungguh alfa sengaja pun khilaf nan meluka
bagaimana mesti kubayar asa terbiarkan
separuh hidupku telah bercela, ampunilah
ANGKUHMU
Karya Drs Mustahari Sembiring sang muham
Angkuhmu mencengkram logika
membelenggu jiwa melunturkan rasa demi rasa
aku terpojok disudut tak percaya
membelenggu jiwa melunturkan rasa demi rasa
aku terpojok disudut tak percaya
Terus saja kau tonjolkan muka
bersembunyi dibalik coreng moreng susila
kehidupan telah memperdaya jiwa
bersembunyi dibalik coreng moreng susila
kehidupan telah memperdaya jiwa
Sesungguhnya didepanmu ada cermin retak sejuta
satu jari menunjuk sesiapa tiga jari berbalik ke dada
kumbang tak singgah jika bunga tak menggoda
jika bijak segeralah mengukur jarak
satu jari menunjuk sesiapa tiga jari berbalik ke dada
kumbang tak singgah jika bunga tak menggoda
jika bijak segeralah mengukur jarak
siapakah si raja batk
Oleh: Juandaha Raya Purba
Sebetulnya sudah jelas bahwa penamaan itu datang dari orang Barat untuk menyebut penduduk pedalaman seperti disebutkan orang Melayu (batak–berarti ‘penunggang kuda’, kasar dan tak baradab). Sebab dibanding Melayu, orang pedalaman memang ketinggalan waktu itu. Nah, Belanda masuk ke Tapanuli dan mulai mereorganisasi pemerintahannya, mereka hendak mengangkat pemimpin (Kepala Kuria seperti di Selatan) tetapi semua orang ingin jadi penguasa (raja). Untuk memilih raja huta (nagari) maka ditentukanlah pengakuan masyarakat adat lokal siapa sisuan bulu (sipungkah huta) maka diciptakanlah pohon silsilah untuk menunjukkan siapa tertua.
Nah, ‘tertua’ ini yang menjadi dasar klaim seseorang diangkat menjadi kepala nagari. Maka berlomba-lombalah marga di Tapanuli mengaku tertua. Belanda pusing dibuatnya, bingung sebab teknologi pemerintahan di Tapanuli tidak secanggih Sumatera Timur (ingat juga bahwa hanya di Sumatera Timur ada Korte Verlkaring sebab Belanda melihat kerajaan-kerajaan di situ mewakili rakyatnya sebagai negara).
Kemudian ditugaskanlah seorang asisten Demang di Pangururuan bernama Wasinton Hutagalung (red:M.W Hutagalung) bekas guru zending yang sudah mendapat pendidikan modern (zending) menulis silsilah yang disebut tarombo (Melayu: Terombo). Hutagulung dengan bantuan Belanda mengumpulkan orang-orangtua di Simanindo menjelaskan asal-usul marga ini (itu sebabnya marga batak bermula di Samosir, andai Hutagalung ke Balige mungkin marga itu bermula di sana). Ternyata simpang siur keterangan para orang tua ini.
Pusing tidak ada keputusan, maka Belanda menetapkan apa yang ditulis Hutagalung itu yang menjadi acuan. Karena Belanda yang menetapkan maka rakyat Tapanuli (yang belum semaju sekarang) mengiakan saja–meski tetap berdebat tentang siapa paling tua.
Nah, tentang Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon–ini juga adalah nama rekaan dari Hutagulung. Sebab di Toba tidak dikenal Guru yang ada adalah Datu, dan istilah raja sesungguhnya tidak ada di Toba, hanya ihutan. Baik istilah Guru dan Raja itu hanya ada di Sumatera Timur yang sudah dipengaruhi Hindu.
Saya masih bisa menemukan kesan rekaan itu dalam suratnya Andreas Simangunsong mengundang orang Balige sekitarnya datang menggarap sawah di Simalungun. Di suratnya yang ditulis tahun 1920 itu disebutkan bahwa mereka (orang Toba) adalah keturunan Sori Maharadja Batak dari Sianjur Mula-mula. Istilah ini diambil Hutagalung dari Melayu Seri Maharaja.
Jadi jelas sekali kalau tarombo yang dibuat oleh Hutagalung itu mitos dan karangan semata dalam rangka politik reorganisasi Tapanuli oleh Belanda. Penjelasan lebih lanjut boleh dibaca di buku Prof. Dr. Lance Castles, Tapanuli (1970) dan Prof. Dr. William Liddle, Ethnicity, 1970.
*Tulisan dari sumber asli telah diedit seperlunya tanpa menghilangkan/mengurangi makna aslinya
Sumber: Diskusi Simalungun
Gambaran umum jati diri karo
Masyarakat Karo Dinamis dan Patriotis serta taqwa kepada Tuhan YME. Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.
Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (Sura-sura pusuh praten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) pokok yang disebut TUAH , SANGAP dan MEJUAH – JUAH
TUAH berarti menerima berkah dari Tuhan YME, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.
SANGAP berarti mendapat rezeki , kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi mendatang.
MEJUAH-JUAH berarti sehat sejahtera lahir bathin, aman , damai , bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia , antara manusia dan lingkungan , dan antara manusia dengan Tuhannya.
Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tak dapat dipisahkan pisahkan satu sama lain.
seminar mitos dan sejarah batak di unimed
Seminar dengan thema ‘Telaah Mitos dan Sejarah Dalam Asal Usul Orang Batak’ yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan (Unimed) telah berlangsung di Ruang Sidang FIS Unimed [Jumat 9/1]. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai, Prof. Dr. Bungaran Simanjuntak dari Universitas Negeri Medan, dan drs. Ketut Wiradynyana MA dari Balai Arkeologi Medan.
Bungaran Simanjuntak yang tampil sebagai pembicara pertama membawakan makalah dengan judul ‘Korelasi Causal Antara Mitos dan Sejarah Dalam Mengembangkan Sejarah’. Sedangkan Ketut Wiradyanyana yang tampil sebagai pembicara ke dua membawakan makalah dengan judul ‘Identifikasi dan Penelusuran Jejak Peradaban Batak Toba di Pulau Samosir’. Adapun Uli Kozok mambawakan makalah dengan judul ‘Memahami Fakta di Dalam Mitologi Si Raja Batak’.
Meski sebagian peserta menduga seminar ini membahas tentang sejarah asal-usul orang Batak yang dianggap terdiri dari beberapa sub suku bangsa Batak seperti Pakpak, Karo, Simalungun dan Mandailingh, ternyata Batak yang dimaksud dalam seminar terbatas pada apa yang kadang-kadang disebut juga Batak Toba. Adapun Karo, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak yang selama ini dianggap juga oleh sebagian orang sebagai bagian Batak ternyata bukanlah Batak yang dimaksud di dalam seminar ini.
Terkait dengan itu, salah seorang peserta seminar yang kebetulan orang Karo merasa senang sekali ternyata seminar ini menganggap Karo bukan bagian Batak.
Semua materi seminar yang dibahas sejak Pukul 14.00 WIB ini melulu menyangkut Batak yang terbatas pada apa yang kadang disebut juga Batak Toba, sementara pembahasan tentang Karo tak ada sama sekali.
“Seminar ini berthema tentang telaah mitos dan sejarah dalam asal-usul orang Batak, namun yang dibahas tak sedikitpun menyangkut tentang Karo. Dengan demikian maka sudah jelaslah bahwa Karo memang bukan Batak,” ujarnya dengan nada tegas dan puas.
Hal menarik yang perlu dicermati dalam seminar ini, yakni dari pemaparan materi yang dibawakan oleh Ketut Wiradnyana. Menurut Ketut, berdasarkan Ilmu Geoglogi, setelah terjadinya kaldera Toba 75.000 tahun lalu, Pulau Samosir kemudian baru muncul ke permukaan setelah 30.000 tahun belakangan. Hal ini kemudian disusul Tuktuk yang muncul ke permukaan setelah 5.000 tahun yang lalu.
“Berdasarkan Ilmu Geologi ini, maka kita mempertanyakan sejak kapankah Pulau Samosir mulai dihuni oleh Manusia? Berdasarkan penggalian yang saya lakukan di Sianjur Mula-mula, maka hasilnya didapatkan sekitar 600 tahun yang lalu,” ujarnya.
Begitupula menurut Ketut, bila dikaji berdasarkan tarombo Si Raja Batak, maka akan didapatkan hasil kehidupan awal orang Batak yang masih sangat muda, yaitu sekitar 700-800 tahun yang lalu.
“Berdasarkan tarombo dari Si Raja Batak, kehidupan orang Batak hingga sekarang terdiri dari 28 sampai 32 generasi. Adapun perkiraan untuk masing-masing generasi terdiri dari 25 tahun. Dengan demikian, maka kehidupan awal orang Batak juga tergolong masih muda, yakni antara 700 hingga 800 tahun,” ujarnya.
Keberadaan kehidupan awal orang Batak ini kemudian diperbandingkan Ketut dengan hasil penggalian yang dia lakukan di Loyang Mandale, Loang Ujung Karang, Aceh Tengah beberapa tahun lalu. Dari penggalian tersebut ditemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan telah berusia 5000 tahun.
“Berdasarkan hasil serangkaian tes yang dilakukan, DNA kerangka manusia purba yang ditemukan tersebut identik dengan DNA orang Gayo dan Karo,” paparnya.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Ketut, Uli Kozok juga berpendapat hampir sama bahwa keberadaan orang Batak memang masih muda sekitar 600 tahunan. Pendapat ini juga kemudian dikuatkan oleh Dr. Ichwan Azhari saat memberikan komentar pada sesi tanya jawab.
Ada Riwayat Apa antara Deli, Karo dan Medan?
Oleh Loreta Karo Sekali
Tulisan ini terinspirasi oleh artikel Juara R. Ginting berjudul “Inter-group Relations in North Sumatra” dalam Tribal Communities in the Malay World: Historical, Cultural and Social Perspectives (2002) terbitan bersama oleh IIAS-Belanda dan ISEAS-Singapor (Halaman 384-400) Buku yang diedit oleh G. Benjamin dan C. Chou ini berisikan makalah-makalah yang diseminarkan di Singapore pada tahun 1997 atas kerjasama beberapa universitas di Eropah dan Asia.
Setelah menghidangkan banyak data sejarah, artikel itu menggugat keras anggapan bahwa Karo adalah penduduk pendatang di Deli. Sekalian dia menggugat wilayah Deli yang mengacu pada defenisi kolonial. Lebih jauh dari itu, dia membongkar kelemahan teori-teori ilmiah tentang migrasi yang, menurutnya, tidak memperhitungkan jalan pikiran orang-orang yang ditelitinya itu sendiri. Lebih gawat lagi, katanya, generasi muda dari masyarakat yang diteliti itu kemudian menggunakan teori-teori ilmiah itu untuk mengartikan gejala-gejala budayanya sendiri.
Contoh paling telak dia tampilkan adalah pembagian Taneh Karo ke Karo Gugung dan Karo Jahe. Gugung (dataran tinggi) dan jahe (hilir) bukanlah bandingan sepadan, katanya. Bandingan sepadan seharusnya antara gugung dengan berneh (dataran rendah) atau antara jahe dengan julu (hulu).
Bukannya tertarik mendalami mengapa orang-orang Karo membandingkan yang tidak sepadan itu, para ilmuwan dan pemerintah kolonial langsung menterjemahkan Karo Gugung sebagai Dataran Tinggi Karo dan Karo Jahe sebagai Dataran Rendah Karo (yang seharusnya Karo Hilir). Apa pula terjemahannya Karo Berneh kalau Karo Jahe sudah diterjemahkan dengan Dataran Rendah Karo (?), gugatnya.
Kasus yang lebih parah lagi terjadi pada pengertian taneh kemulihen dan taneh perlajangen. Tulisan-tulisan masa kolonialmenterjemahkan taneh kemulihen sebagai tanah asal, dan taneh perlajangen sebagai tempat tinggal baru di luar tanah asal. Terjemahan seperti ini memaksa orang-orang Karo sendiri percaya bahwa keberadaan mereka di Karo Jahe adalah sebagai pendatang. Padahal, kata Ginting, klasifikasi kemulihen dan lajang berlaku tidak hanya antara Karo Gugung dan tempat-tempat di luarnya, tapi juga antara rumah kuta dengan barung-barung yang berada di wilayah satu kampung yang sama, baik di Karo Gugung maupun di Karo Jahe. Dengan kata lain, baik di Karo Gugung sendiri maupun di Karo Jahe sendiri sebuah kampung dapat dibagi menjadi ingan kemulihen dengan ingan lajang.
Apa artinya ini semua (?), seru Ginting dalam menyimpulkan tulisannya itu. Lalu lanjutnya: “Migrasi tidak harus selalu menunjukan adanya gejala perpindahan sekelompok manusia dari satu tempat ke tempat lain. Bisa juga terjadi sebaliknya, bahwa satu tempat bergerak dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lainnya.” (halaman 397)
Ginting tidak menjelaskan bagaimana kita bisa melihat adanya perpindahan suatu tempat dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lain. Tapi dari keseluruhan artikelnya itu dapat jelas dimengerti bahwa perpindahan yang dimaksud ada di kepala manusia pendukung kebudayaan itu sendiri. Dengan ini dia membuat kejutan kecil di kalangan ilmuwan sosial internasional. Saya katakan kejutan kecil karena pendekatan yang dia lakukan bukanlah barang baru di kalangan strukturalis yang lebih mengutamakan pikiran-pikiran dari dalam masyarakat itu sendiri dari pada melemparkan konsep-konsep luar ke dalam masyarakat yang diteliti.
Dengan pendekatan seperti itu, Ginting menjelaskan sebab-musabab terjadinya Perang Sunggal yang kesohor itu. Menurut dia, Deli dapat dipandang sebagai sebuah perserikatan antara 4 kejuruan Melayu (Denai, Percut, Deli, Sepulu Dua Kuta Hamparan Perak) dan 4 urung Karo (Senembah, Suka Piring, Sepulu Dua Kuta Lau Cih, Sabernaman). Untuk urusan-urusan dagang lewat laut, Sultan Deli adalah pemimpin tertinggi dari perserikatan ini. Tapi untuk urusan-urusan perbatasan wilayah, Datuk Sunggal dari Urung Sabernaman adalah pemimpin tertinggi dengan gelar ulun jandi (hulu perjanjian).
Kepemimpinan ganda seperti ini diwujudkan dengan kewajiban bahwa permaisuri Deli adalah beru Surbakti dari Sunggal, dengan mana Sunggal tetap menjadi kalimbubu Deli. Kepemimpinan ganda terdapat di banyak tempat di Indonesia. Di artikelnya itu, Ginting mengajak pembaca untuk membandingkannya dengan hasil penelitian Barbara W. Andaya berjudul “Upstream and Downstreams in Early Modern Sumatra” di The Historian 57, 1995 (no.3: 537-52) Namun, Ginting sendiri di beberapa ceramahnya di Belanda dan Jerman telah berkali-kali menunjukan bahwa kepemimpinan ganda seperti itu bisa didapati di dalam setiap kampung Karo. Salah satu contohnya dapat dilihat di kolomnya berjudul “Rumah dan Tanah: Kepemimpinan Ganda” di Sora Mido edisi 3 (2004). Di situ dia menjelaskan bahwa setiap kampung Karo punya dua pengulu bergelar Pengulu Rumah dan Pengulu Si Lebé Merdang (atau Ulun Jandi). Untuk hubungan dengan dunia luar, Pengulu Rumah sebagai pemimpin tertinggi, tapi untuk urusan intern kampung, Pengulu Si Lebé Merdang menjadi pemimpin tertinggi.
Perang saudara banyak terjadi di Karo ketika pemerintah kolonial menerapkan sistim pemimpin tunggal. Umumnya Pengulu Rumah yang terangkat menjadi pemimpin tunggal, sedangkan Si Lebé Merdang dianggap tidak ada. Lihat saja perselisihan antara Sibayak Pa Pelita dengan Sibayak Pa Mbelgah serta antara Raja Urung Lima Senina dengan Pa Garamata. Revolusi Sosial di Sumatra Timur pada 1950an tak terlepas dari masalah struktural ini, meskipun para sejarawan sering menyebutnya sebagai konflik antara feodalis/kolonialis dengan nasionalis/ sosialis/ komunis.
Masalah antara Sultan Deli dan Datuk Sunggal sendiri mulai terjadi ketika perusahaan-perusahaan asing memperluas perkebunan mereka dengan melakukan perambahan hutan di wilayah keempat urung Karo itu. Ada dua masalah utama atas perluasan perkebunan ini, kata K. Pelzer dalam tulisannya berjudul Planters against Peasants (1982). Pertama, bukan hanya secara ekonomis, juga secara sosial budaya orang-orang Karo Jahe sangat tergantung pada hutan. Ke dua, perusahaan-perusahaan asing itu hanya membayar sewa tanah kepada Sultan Deli.
Dengan mengutip ulasan Pelzer itu, J.R. Ginting mengungkapkan kemarahan orang-orang Karo Jahe sebagai berikut: “Kai ka dalenna Sultan Deli ngaku raja ku kutanta énda. Tapak rumahna ah pé ajangta denga. Rettap ngaténa ras si gedang igungna ah kerina!” Amukan yang dahsyat sekali, tulis Pelzer berkenaan dengan Perang Sunggal. Ginting sendiri lebih menekankan adanya ajukan orang-orang Karo terhadap Datuk Sunggal untuk mengorganisir penyerangan terhadap bangsal-bangsal tembakau asing, karena kedudukannya sebagai ulun jandi Deli.
Perang Sunggal hanya dapat dipadamkan setelah Deli Maschapij mendatangkan bala tentara kolonial dari Riau. Itupun memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Datuk Sunggal tertangkap di tempat persembunyiannya di sebuah hutan dekat Nangbelawan (Karo Gugung) pada tahun 1902. Separoh penduduk Lingga berpihak pada Belanda dan menunjukan dimana tempat persembunyian Datuk Sunggal. Separoh lainnya marah sekali atas tertangkapnya Datuk Sunggal. Mereka membumihanguskan rumah mereka sendiri dan mengungsi meninggalkan Lingga.
Di pihak lain, kekuasaan Sultan Deli semakin besar atas dukungan keuangan dari Deli Maschapij dan militer dari pemerintah kolonial. Ketika Deli Maschapij menghadiahkan sebuah istana kepadanya, dia menunjuk lokasi Istana Maimoon sekarang sebagai tempatnya. Mengapa di sana, dari dulu dia kan tinggal di Labuhan Deli?
Menurut Pelzer, Sultan Deli melakukan itu untuk membangun image bahwa dia berkuasa tidak hanya terhadap orang-orang Melayu tapi juga terhadap orang-orang Karo. Lokasi Istana Maimoon itu adalah bagian dari wilayah Urung Suka Piring, taneh Sembiring Milala ras Karo Sekali! Tak heran kalau di masa Revolusi Sosial keluarga Sultan Deli mengaku Sembiring Milala.
Di bawah ini saya sertakan sebuah peta yang dibuat oleh E.A. Halewijn (Assistent Resident van Deli) yang menggambarkan batas- batas wilayah Kejuruan Melayu dan Urung Karo di Deli (diterbitkan dalam Tijdscrift voor Indische Taal- Land- en Volkenkunde no. 23, 1876) Pada peta terlihat jelas bahwa pusat kota Medan terletak di wilayah Urung Suka Piring, tak jauh dari pertemuan antara Sungai Deli dengan Sungai Baburah. Pertemuan kedua sungai ini sekaligus menjadi tapal batas antara Urung Suka Piring dengan Urung Sepulu Dua Kuta Lau Cih.
Senin, 15 Juni 2015
KARO BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK
Batak sering disebut sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama batak itu sendiri sering dijadikan rujukan untuk mengidentisifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Utara.
Adapun suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah, Karo, Pakpak, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola.
Namun bila ditinjau dari segi sejarah, maka anggapan Karo adalah bagian dari Batak merupakan presepsi yang sangat keliru.
Kutipan tulisan dari koran Suara Pembaruan dengan judul “Siapakah Orang Batak Itu?” yang terbit pada 29 Januari 2005, menyebutkan bahwa benar, bangsa Batak adalah keturunan langsung dari si Raja Batak.
Si Raja Batak pada tulisan itu diperkirakan hidup di sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus.
Pada tahun 1275, Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1400, kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba, dan sebagian Aceh.
Dengan memperhatikan tahun dan kejadian di atas, diperkirakan si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari selatan Danau Toba (Portibi), atau dari barat Danau Toba (Barus), yang mengungsi ke pedalaman akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.
Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya, ditempatkan di Portibi, Padang Lawas, dan sebelah timur Danau Toba (Simalungun)
Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak, seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dan sebagainya, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.
Selanjutnya menurut buku Leluhur marga-marga Batak, dalam silsilah dan legenda, yang ditulis Drs Richard Sinaga, Tarombo Borbor Marsada anak si Raja Batak ada tiga orang, yaitu Guru Teteabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.
Di antara masyarakat Batak, ada yang mungkin setuju bahwa asal-usul orang Batak dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Si Raja Batak yang pada suatu ketika antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak?
Dari sejarah Batak yang tertulis di Koran Suara Pembaruan ini, maka kita dapat membuat perbandingan antara kehidupan Si Raja Batak dengan sebuah kerjaan besar bernama Aru yang disebut-sebut sebagai kerjaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara saat ini.
Dari catatan kronik Cina pada masa Dinasti Yuan, disebutkan bahwa pada tahun 1282 Kublai Khan menuntut tunduknya penguasa Haru pada Cina. Tuntutan itu disebutkan ditanggapi dengan pengiriman upeti oleh saudara penguasa Haru pada 1295. Maka dari catatan ini dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Aru sendiri pasti sudah ada sebelum tahun 1282?
Antara Karo dan Kerjaan Aru selalu terkait, bahkan terdapat indikasi bahwa penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo.
Membandingkan antara masa kehidupan si Raja Batak dengan masa berdirinya Kerjaan Aru yang secara bersama-sama hidup diantara abad ke-12 sampai abad ke-13 dengan dua kerjaan yang berbeda, maka sudah tentu, antara nenek moyang Batak dengan nenek moyang Karo itu berbeda. Disatu sisi nenek moyang Batak berasal dari Si Raja Batak. Namun disisi lain nenek moyang Karo berasal dari Kerjaan Aru yang rajanya disebut juga dengan Pa Lagan (nama orang karo)
MIGRASI
Pada pra- sejarah terjadi perpindahan bangsa- bangsa termasuk di Asia yang khusus ke Indonesia datang dari Asia Selatan dan Tenggara . Percampuran darah terjadi antar bangsa- bangsa tersebut dengan penduduk yang telah bermukim sebelumnya di Nusantara ini merupakan nenek moyang kita dan pada umumnya yang mendiami pesisir sebagai orang bahari.
Menurut Versi Karo : Leluhur hidup dari menangkap ikan , bertani, berburu, berdagang , mengarungi samudra luas. Hal ini diceritakan bersambung hampir setiap malam di lantai lumbung padi yang dinamakan ‘Jambur’ dari purbakala hingga menjelang tahun 1940 di daerah yang penduduknya suku Karo .
Cerita yang bersambung mengenai seluk beluk asal muasal suku Karo , kebudayaan, bahasa dan adat istiadat serta perjuangan hidupnya biasanya di namakan ‘Turi- turin atau Terombo Karo’. Setiap cerita ditayangkan melalui lagu merdu pada malam hari sampai dini hari selama tujuh malam.
Aku dulu pernah mendengarkan cerita bersambung itu sebelum memasuki bangku sekolah. Karena sudah dilalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan dalam menguraikan inti sarinya, terutama pencocokan daerah kejadian saat dipergunakan pengetahuan umum geografi dan sejarah dunia atau nasional dalam keadaan tertentu menurut suasana hikayatnya.
Pada pokok hikayat di uraikan bahwa nenek moyang itu datang ke pesisir Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya yang menurut logat mereka “reh ku pertibi si la ertepi enda” dari dua “negeri nini pemena” yaitu leluhur Pemula, datang dari dari negeri yang disebut “YUNA ( YUNAN )” ialah dari Cina Selatan dan Asia Tenggara serta “BARAT” yakni Asia Selatan (India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain).
Yang datang dari negeri “Yuna” itu masih tergolong “animisme” atau “agama pemena”, sedangkan yang bersal dari “Barat” sudah beragama, yaitu agama Budha. Suku- suku bangsa pesisir yang saling bercampur darah (perkawinan) sesamanya inilah merupakan nenek moyang suku Karo setelah kelak masuk ke daerah pedalaman (Pembauran).
PEMUKIMAN DATARAN TINGGI KARO
Leluhur kita yang yang bermukim disepanjang pesisir Sumatera berkembang memeluk kepercayaan yang beraneka ragam yaitu animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah berdiri Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan Negara Nasional II (Keprabuan Majapahit) antara abat VII- XVI.
Leluhur kita yang yang bermukim disepanjang pesisir Sumatera berkembang memeluk kepercayaan yang beraneka ragam yaitu animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah berdiri Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan Negara Nasional II (Keprabuan Majapahit) antara abat VII- XVI.
Karena pekerjaan nenek moyang kita selaku kaum bahari dan pedagang, maka sudah jelas merekapun bergaullah dengan orang asing yang memeluk pelbagai agama, termasuk Muslim, sehingga kian lama makin banyaklah agama yang dianut penduduk.
Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan. Yang dalam turi- turi Karo diceritakan bahwa dalam satu keluarga mungkin terdapat dua atau atau beberapa kepercayaan yang berlainan, antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia untuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing- masing. Selain membawa keagamaan juga mengenai kebudayaan yang mempengaruhi tata kehidupan pendududk.
Demikianlah seorang pedagang Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan perkembangan pesat penyiaran agama Islam didaerah Aceh yaitu Samudera Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menutut Ibnu Batulah, sudah mapan benar agama Islam sebagai anutan penduduk Di Samudra Pasai, yang keterangannya ini diperkuat pula oleh musyapir Cina bernama Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah tersebut tahun 1405.
Menurut versi karo, pada masa- masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok – kelompok . Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah mayoritas beragama Islam. Kemudian agama Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).
Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar- besaran dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni oleh manusia .
Bahasa “kita” ialah cakap melawi — , yang kemudian berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.
Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan belantara itu, sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.
Diketahui dalam hikayat bahwa pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah pegunungan dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.
Selanjutnya perjalanan yang sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah” yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”
PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS DESA SI WALUH NARI
“Tanah Karo Si Malem” artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Tanah Karo Si Malem” artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan terlihat datang dari pesisir, terucaplah kata- kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare, Karo , menjadi … KARO, yang artinya kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang.
Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK AROE = KARO Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.
Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin-angin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang Merga ,seperti Merga Ginting dan Merga Tarigan bersasal dari YUna (Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan dsb).
Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.
Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.
Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU ” yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam cerita bahwa rombongan KARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga – Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai “anak beru”.
Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara Karo – Dairi disebutkan oleh orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiapa orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi orang yang “tercela ahlaknya ” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu kampung atau “kalak Maya- Maya” terutama di Karo Jahe ” dan lain- lain .
Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra – putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere Karo.
Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya ” yaitu (Barat) bagi keturunan Karo- Karo , Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.
Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan kawin mawin sesmanya, sebab indetitasnyaq akan sama buat selama- lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”,yaitu “nama khusus ” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula ,namun harus tunduk kepada pokok merga ,Merga Silima.
Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.
Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan “suku” atau “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam yang disebut “Sira”
Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang ” yang kini daerah- daerah tersebut ialah Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.
Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan , dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen – Tanah Karo ” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan perlanja Sira dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng Merga Silima (nama Bukit Barisan dibagian datyaran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.
Untuk nmengenal kawan dipailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima” yang dilanjutkan dengan. Taneh Pengolihen yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai jawabnya dianggap “musuh”, demikian sekelumit ceritanya maka nama pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Sinabung- Sibayak dinamakan orang Karo deleng Merga silima.
Sumber: Akun Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun
MIGRASI
Pada pra- sejarah terjadi perpindahan bangsa- bangsa termasuk di Asia yang khusus ke Indonesia datang dari Asia Selatan dan Tenggara . Percampuran darah terjadi antar bangsa- bangsa tersebut dengan penduduk yang telah bermukim sebelumnya di Nusantara ini merupakan nenek moyang kita dan pada umumnya yang mendiami pesisir sebagai orang bahari.
Menurut Versi Karo : Leluhur hidup dari menangkap ikan , bertani, berburu, berdagang , mengarungi samudra luas. Hal ini diceritakan bersambung hampir setiap malam di lantai lumbung padi yang dinamakan ‘Jambur’ dari purbakala hingga menjelang tahun 1940 di daerah yang penduduknya suku Karo .
Cerita yang bersambung mengenai seluk beluk asal muasal suku Karo , kebudayaan, bahasa dan adat istiadat serta perjuangan hidupnya biasanya di namakan ‘Turi- turin atau Terombo Karo’. Setiap cerita ditayangkan melalui lagu merdu pada malam hari sampai dini hari selama tujuh malam.
Aku dulu pernah mendengarkan cerita bersambung itu sebelum memasuki bangku sekolah. Karena sudah dilalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan dalam menguraikan inti sarinya, terutama pencocokan daerah kejadian saat dipergunakan pengetahuan umum geografi dan sejarah dunia atau nasional dalam keadaan tertentu menurut suasana hikayatnya.
Pada pokok hikayat di uraikan bahwa nenek moyang itu datang ke pesisir Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya yang menurut logat mereka “reh ku pertibi si la ertepi enda” dari dua “negeri nini pemena” yaitu leluhur Pemula, datang dari dari negeri yang disebut “YUNA ( YUNAN )” ialah dari Cina Selatan dan Asia Tenggara serta “BARAT” yakni Asia Selatan (India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain).
Yang datang dari negeri “Yuna” itu masih tergolong “animisme” atau “agama pemena”, sedangkan yang bersal dari “Barat” sudah beragama, yaitu agama Budha. Suku- suku bangsa pesisir yang saling bercampur darah (perkawinan) sesamanya inilah merupakan nenek moyang suku Karo setelah kelak masuk ke daerah pedalaman (Pembauran).
PEMUKIMAN DATARAN TINGGI KARO
Leluhur kita yang yang bermukim disepanjang pesisir Sumatera berkembang memeluk kepercayaan yang beraneka ragam yaitu animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah berdiri Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan Negara Nasional II (Keprabuan Majapahit) antara abat VII- XVI.
Leluhur kita yang yang bermukim disepanjang pesisir Sumatera berkembang memeluk kepercayaan yang beraneka ragam yaitu animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah berdiri Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan Negara Nasional II (Keprabuan Majapahit) antara abat VII- XVI.
Karena pekerjaan nenek moyang kita selaku kaum bahari dan pedagang, maka sudah jelas merekapun bergaullah dengan orang asing yang memeluk pelbagai agama, termasuk Muslim, sehingga kian lama makin banyaklah agama yang dianut penduduk.
Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan. Yang dalam turi- turi Karo diceritakan bahwa dalam satu keluarga mungkin terdapat dua atau atau beberapa kepercayaan yang berlainan, antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia untuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing- masing. Selain membawa keagamaan juga mengenai kebudayaan yang mempengaruhi tata kehidupan pendududk.
Demikianlah seorang pedagang Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan perkembangan pesat penyiaran agama Islam didaerah Aceh yaitu Samudera Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menutut Ibnu Batulah, sudah mapan benar agama Islam sebagai anutan penduduk Di Samudra Pasai, yang keterangannya ini diperkuat pula oleh musyapir Cina bernama Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah tersebut tahun 1405.
Menurut versi karo, pada masa- masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok – kelompok . Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah mayoritas beragama Islam. Kemudian agama Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).
Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar- besaran dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni oleh manusia .
Bahasa “kita” ialah cakap melawi — , yang kemudian berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.
Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan belantara itu, sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.
Diketahui dalam hikayat bahwa pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah pegunungan dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.
Selanjutnya perjalanan yang sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah” yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”
PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS DESA SI WALUH NARI
“Tanah Karo Si Malem” artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Tanah Karo Si Malem” artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan terlihat datang dari pesisir, terucaplah kata- kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare, Karo , menjadi … KARO, yang artinya kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang.
Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK AROE = KARO Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.
Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin-angin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang Merga ,seperti Merga Ginting dan Merga Tarigan bersasal dari YUna (Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan dsb).
Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.
Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.
Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU ” yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam cerita bahwa rombongan KARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga – Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai “anak beru”.
Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara Karo – Dairi disebutkan oleh orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiapa orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi orang yang “tercela ahlaknya ” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu kampung atau “kalak Maya- Maya” terutama di Karo Jahe ” dan lain- lain .
Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra – putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere Karo.
Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya ” yaitu (Barat) bagi keturunan Karo- Karo , Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.
Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan kawin mawin sesmanya, sebab indetitasnyaq akan sama buat selama- lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”,yaitu “nama khusus ” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula ,namun harus tunduk kepada pokok merga ,Merga Silima.
Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.
Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan “suku” atau “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam yang disebut “Sira”
Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang ” yang kini daerah- daerah tersebut ialah Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.
Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan , dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen – Tanah Karo ” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan perlanja Sira dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng Merga Silima (nama Bukit Barisan dibagian datyaran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.
Untuk nmengenal kawan dipailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima” yang dilanjutkan dengan. Taneh Pengolihen yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai jawabnya dianggap “musuh”, demikian sekelumit ceritanya maka nama pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Sinabung- Sibayak dinamakan orang Karo deleng Merga silima.
Sumber: Akun Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun
Langganan:
Komentar (Atom)