Oleh: MU Ginting
“Apa manfaatnya kampanye Karo Bukan Batak (KBB)? Apakah akan mendatangkan kemakmuran pada orang Karo? Apakah akan bermanfaat membangun Bhineka Tunggal Ika?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah hakiki bagi gerakan pencerahan KBB.
Bagian besar orang Karo saya yakin sudah bisa menjawab dengan beragam jawaban pula, seperti sudah kita jumpai sering belakangan ini, jawaban mendalam atau dangkal, sopan atau kurang sopan dsb.
Tapi semuanya menarik dalam proses perubahan dan perkembangan pemikiran KBB, karena istilah B ini sudah lebih dari 200 th ‘dibukukan’ dalam benak manusia negeri kita oleh antropologi kolonial, mision kolonial, dan orang-orang kolonial sendiri untuk kepentingan politik kekuasaan dan penjajahan mereka. Setelah kolonial pergi, istilah ‘B’ digunakan oleh etnis tertentu dalam konteks internal colonialism, seperti istilah ‘A’ atau Aceh di provinsi Aceh.
Pertanyaan terakhir ‘Apakah akan bermanfaat membangun Bhineka Tunggal Ika’? adalah pertanyaan yang sangat penting, karena menyangkut nasib seluruh nation Indonesia dalam hubungannya dengan keragaman, pengakuan terhadap keragaman, dimana Karo adalah salah satu unsurnya.
Tiap unsur sangat perlu punya kejelasan, keaslian, kultur dan budayanya, IDENTITASnya dan daerahnya. Pengakuan dan penghargaan atas unsur-unsur kebhinekaan ini perlu untuk menghindari konflik dan perang antara berbagai unsur bhineka tunggal ika. Karo dan Batak adalah dua unsur berbeda, kultur, budaya, bahasa, way of thinking, filsafat hidupnya, primordialnya, daerahnya dsb semua keaslian dalam tiap unsur kebhinekaan itu.
Mengaburkan atau tak mengindahkan perbedaan (abad 20) sangat berbahaya, perang etnis dunia yang sudah makan jutaan korban jiwa jadi bukti hidup. Abad 21 adalah abad pencerahan perbedaan, setelah itu pengakuan dan penghargaan atas perbedaan itu, demi kedamaian, perubahan, perkembangan dan kemajuan.
Tidak mungkin ada Bhineka Tunggal Ika kalau tak ada orang yang mengetahui PERBEDAAN dari unsur-unsur perbedaan yang ada dalam Bhineka Tunggal Ika. Era lalu hanya retorika dan jargon politik Bhineka Tunggal Ika, tetapi kalau ada pertanyaan apa bedanya Karo dan Batak, tak ada yang tahu, walaupun banyak yang ngepul soal persamaannya, ‘sama-sama Batak’ untuk mengaburkan dua unsur berbeda sehingga sempat pada zamannya Karo tak dikenal sama sekali. Dan ini jelas bukan tujuan Bhinneka Tunggal Ika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar