Senin, 15 Juni 2015

 
''jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.''
JA MERAH
Ir soekarno(1901-1970)
Bulan Juni memang bulan Bapak Bangsa. Soekarno lahir dan meninggal pada bulan Juni. Lahirnya putra sang fajar membawa perubahan bagi Indonesia. Indonesia yang merdeka, yang berlandaskan idelogi dengan tujuan mensejahterahkan rakyat dan menyatukan negeri ini dari Sabang sampai Merauke. Beragam agama, suku, ras, dan etnis ada di Indonesia, namun kita mampu meminimalisir adanya konflik dengan berlandaskan suatu ideologi, Pancasila. Pancasila lahir sebagai ideologi yang sampai sekarang mampu menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Tidak dapat disangkal bahwa Bung Karno sejak muda memiliki semangat yang berkobar-kobar dalam dadanya, semangat nasionalisme. Perjuangannya untuk memerdekakan Indonesia bukanlah perjuangan yang mudah. Akan tetapi, puluhan tahun bahkan hingga sampai saat ini belum terlihat adanya penghargaan bagi sosok Bung Karno. Bahkan masih terdengar sampai hari ini tuduhan terhadap Bung Karno yang masih belum dapat dibuktikan.

Jika kelahiran Bung Karno jelas membawa Indonesia merdeka, bagaimana dengan kematiannya? Apakah kematian Bung Karno adalah catatan hitam sejarah? Sampai hari ini rakyat Indonesia masih belum tahu kebenaran. Padahal sebagai warga negara Indonesia, kita semua berhak tahu apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Bung Karno sejak ia dilengserkan hingga akhir hayatnya.

Bung Karno dilengserkan karena ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan posisinya. Peristiwa G30/S menjadi titik terang bagi pihak lawan untuk menjatuhkan Bung. Tentu bagi mereka yang hidup di zaman Orde Baru ingat benar bagaimana pemutaran film “Pengkhianatan G30S/PKI” diulang terus menerus pada tanggal 30 September. Hal ini menciptakan kebencian terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) serta pesan implisit dalam film ini membuat rakyat mulai menjauhi sosok Bung Karno yang sempat menjadi pemimpin dan idola di negeri ini.

Bung Karno dituduh terlibat dalam peristiwa berdarah ini karena Tjakrabirawa (pasukan pengawal presiden saat itu) merupakan pasukan yang membunuh para Jenderal Angkatan Darat. Namun sebenarnya tuduhan ini mudah dipatahkan. Jika memang ajudan Bung Karno yang melakukan serangan itu, bagaimana mungkin mereka mengira Lettu Pierre Tendean, seorang ajudan sang Jenderal, sebagai AH Nasution itu sendiri? Mana mungkin ajudan Presiden tidak mengetahui Jenderal Besar Angkatan Darat yang sering ditemui oleh Presidennya sendiri? Dari sini saja kita sudah bisa melihat ada kejanggalan.

Suasana genting saat itu memaksa Bung Karno menunjuk Soeharto sebagai pengendali Angkatan Darat yang bertugas mengembalikan suasana menjadi kondusif seperti sedia kala. Jika Soeharto juga salah satu tentara anti-komunis mengapa ia tidak diserang bersamaan jenderal lainnya? Penjelasannya, angkatan bersenjata PKI tidak mengetahui alamat Soeharto. Tidak janggalkah alasan ini? Bagaimana mungkin serangan yang disusun secara sistematis seperti ini gagal mengetahui salah satu alamat seorang jenderal?

Kekeliruan Bung Karno memang menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret atau yang lebih dikenal dengan Super Semar. Sampai saat ini kita belum mengetahui isi asli dari surat tersebut. Namun jika berpegangan pada pidato Bung Karno yang berjudul Jas Merah, kita dapat mengira bahwa surat perintah tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu. Bung Karno jelas mengatakan bahwa surat perintah tersebut tidak bermaksud untuk menyerahkan kekuasaan seorang presiden. Akan tetapi justru untuk mengamankan keadaan pasca kerusuhan yang terjadi di Tanah Air. Bung Karno juga mengatakan bahwa salah satunya haruslah menjaga keamanan Presiden Soekarno dan keluarganya.

Apapun itu, surat perintah ini memang telah disalahgunakan dan dapat dikatakan melengserkan Bung Karno. Dari beberapa sumber, surat perintah tersebut bermaksud menjadikan Soeharto sebagai pejabat Presiden untuk menjaga keamanan di dalam negeri serta mengusut dalang dari peristiwa G30S. Namun atas dalih pemberantasan PKI sampai ke akar-akarnya, jutaan rakyat Indonesia disiksa dan dibunuh. Mereka tidak pernah diadili secara hukum, mereka dibunuh tanpa kejelasan apakah mereka betul-betul PKI. Padahal banyak pula orang sekitar yang memandang bahwa kerabatnya yang dibunuh karena dituduh PKI hanyalah orang biasa. Bahkan sebagian dari mereka hanyalah simpatisan Bung Karno.

Percayalah. Bung Karno memang keras ketika berbicara, seakan pidatonya mampu mengubah dunia, seakan ia mampu melakukan segala hal dengan retorikanya. Bung Karno sering bertengkar keras dengan sahabat-sahabatnya yang tidak sejalan secara ideologi dengannya. Namun Bung Karno tidak mungkin menciptakan perang antar saudara. Bung Karno tidak mungkin melumuri tangannya dengan darah dengan membunuh jutaan rakyat Indonesia sebagaimana yang dilakukan Soeharto dan pemeritahan Orde Barunya.

Pemberhentian Bung Karno pada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1967, rupanya tidak membuat lawannya puas. Bung Karno begitu menakutkan bagi pemerintahan Orde Baru sehingga harus diasingkan ke Wisma Yaso. Soeharto telah salah jika menganggap Bung Karno haus kekuasaan seperti dirinya. Sebab sebagaimana yang disebutkan Bung Karno bahwa kekuasaan seorang presiden ada batasnya, hanya kekuasaan rakyat yang langgeng dan di atas itu semua ialah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Bung Karno bukan meninggal karena sakit secara fisik. Apalah arti sakit bagi Bung Karno, ia akan lawan itu semua dengan batin yang kuat. Rupanya Soeharto mengetahui hal itu. Bung Karno bukan hanya dibuat menurun kesehatannya, namun juga dibuat sakit batinnya. Anak-anak Bung Karno sulit menemuinya. Bung Karno yang biasa berbincang dengan rakyatnya, dengan kaum marhaen kini harus berada di penjara yang bernama Wisma Yaso. Kabarnya Bung Karno jadi sering bicara sendiri karena tidak ada lagi yang bisa diajak bicara.

Belum lagi dokter-dokter yang dikirim oleh pemerintahan Orde Baru justru dicurigai turut berperan dalam membuat kondisi Bung Karno semakin kritis. Sosok karismatis serta retorik ini seolah makin tidak berdaya, ia bagaikan tahanan rumah. Soeharto berhasil membuat Bung Karno sakit secara lahir dan batin. Hingga pada tanggal 21 Juni 1971, sang putra fajar menghembuskan nafas terakhirnya. Hari itu adalah kesedihan bagi rakyat Indonesia serta kebahagiaan bagi Soeharto dan kroni-kroninya.

Tiga hari sebelum kematiannya, Hatta menemui Bung Karno yang sudah dalam kondisi parah. Bung Karno mengatakan, “Hatta, kau disini?”. Melihat kondisi sahabatnya yang dulu penuh semangat menjadi terlihat begitu tidak berdaya, Hatta yang dikenal datar itu tak kuasa menahan air matanya. Bahkan di akhir hayatnya saja Bung Karno masih mengucapkan kata maaf kepada sahabatnya itu. Terlepas dari pertengkaran mereka berdua, Bung Karno tidak pernah melupakan persahabatan mereka yang lebih dari sekedar persoalan politik saja.

Betapa tragisnya kisah Bung Karno. Tuduhan-tuduhan yang keji dialamatkan kepadanya, ia diasingkan hingga menghembuskan nafas terakhirnya. Ini yang dilakukan bangsa Indonesia terhadap pahlawannya, seorang pemimpin yang rela mati, yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara. Kini Bung Karno telah tiada. Namun Bung Karno juga telah bebas dari segala penderitaan yang menimpanya selama bertahun-tahun.



Bung Karno, maafkan bangsa ini. Kami selamanya berhutang padamu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar